Mengapa kamu betah sebagai Backend Developer, padahal bagi banyak orang itu pekerjaan yang sulit dan membosankan?

Halo, saya akan coba menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang saya.

Kalau dibilang betah, terkadang saya ingin pensiun sebagai Back End Developer hehehe. Becanda kok.

Betah dalam artian apa? Berdasarkan lamanya pengalaman kah? Apakah seorang Back End Developer yang punya pengalaman kerja lebih dari tiga tahun bisa dikatakan ia betah? Tidak juga. Ada beberapa faktor. Kalau dari versi saya seperti ini.

Sedikit bercerita. Saya ini ikut bootcamp dulu selama kurang lebih dua bulan dan dikasih pelatihan sebagai Fullstack Developer. Artinya Front End iya, Back End iya. Kebetulan saya bekerja di perusahaan IT Consultant, dimana nantinya kami akan mengerjakan proyek di client. Istilahnya outsource. Bisa dikatakan pengalaman yang saya dapatkan serta proyek pertama yang akan dikerjakan itu tergantung client. Ada teman saya yang sewaktu bootcamp dididik sebagai Developer, setelah di client pindah haluan jadi Technical Writer/Software Quality Assurance. Bahkan ada yang IT Helpdesk. Alhamdulillah saya langsung terjun sebagai Developer.

Setelah di client, proyek yang saya dapatkan ternyata berfokus di Back End. Berkutat di logic, database (query), serta API. Tidak ada UI yang menarik. Yang ada hanyalah :

Ini code editor yang saya gunakan. Kadang make Intellij, atau Visual Studio Code.

Kalau ini DBEaver. Client database, jadi kalau saya mau ganti-ganti database, tinggal pake ini saja.

Sedangkan ini namanya Postman, sebuah tools juga. Fungsinya untuk melakukan uji coba REST API. API yang sudah di-develop, akan ditest menggunakan Postman.

Bisa dilihat kan, UI-nya hanya seperti ini. Kalau tidak dark, ya light. Tulisannya saja yang warna-warni. Ketika mengembangkan sebuah API, yang mana sebuah API itu bisa memiliki request param, request header, request body dan response body. Implementasinya tergantung kebutuhan. API ini digunakan oleh pihak internal kantor, tidak menutup kemungkinan API ini juga diakses oleh partner/channel lain. Sebagai gambaran di client saya sekarang, API yang didevelop bisa digunakan oleh pihak ketiga atau ketika seseorang membeli polis asuransi dan melakukan pembayaran, salah satunya akan mengakses API milik D*KU jika si customer memilih metode pembayaran dengan D*KU.

API = Application Programming Interface

Dalam proses membangun API, terdapat logic/logika pemrograman yang disesuaikan dengan proses bisnis. Di dalamnya juga terdapat beberapa logic untuk validasi. Sedangkan peran database disini adalah untuk memanipulasi data. Entah untuk menyimpan data, mengambil data lalu diolah lewat program, kemudian diupdate dengan data yang baru untuk disimpan ke database. Satu database itu memiliki banyak tabel. Dan satu tabel itu, memiliki banyak kolom dan data. Belum lagi ada database untuk SIT, UAT, dan Production. Wah kalau saya jelaskan lagi, bakalan panjang. Jadi cukup segitu saja.

Nah kira-kira seperti itulah gambaran dari Back End, itu belum sepenuhnya. Hanya sebagian saja. Mungkin hal inilah yang membuat pekerjaan sebagai Back End Developer terlihat membosankan.

Bagaimana jika ada bugs/issue? Sejauh ini kalau saya mau trace suatu issue/bugs, didalam program saya kasih breakpoint, lalu jalankan aplikasi, kemudian akses ke API yang memiliki bugs. Atau cara kedua, bisa dilihat dari log.

Tiga bulan belakangan saya kebagian enhancement dan bug fixing di Front End. Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya saya mau tracing issue di UI? Jujur sampai sekarang saya bingung cara yang paling efektif. Perbedaan yang saya rasakan ketika mencari bug/issue di Front End dan Back End adalah, kalau di Front End jika ketahuan bug-nya dimana, code-nya diubah -> simpan -> jalankan aplikasi, kita bisa langsung melihat perubahan di UI-nya. Sedangkan di Back End, saya harus debug dulu satu-satu sesuai alur program, lalu nanti ketahuan salahnya dimana. Saya rasa ini juga salah satu yang membuat orang jadi jenuh ketika di Back End.

Lalu, apa yang membuat seseorang terlalu lama di Back End? Kalau menurut saya :

  1. Sudah terlalu nyaman berkutat dengan database(query) dan logic
  2. Pekerjaan yang mengharuskan untuk tetap bertahan disitu

Biasanya disetiap persyaratan untuk melamar pekerjaan, contohnya sebagai Front End Developer, perusahaan membutuhkan yang sudah memiliki 1–2 tahun pengalaman, bahkan lebih. Hal yang sama berlaku untuk Back End, apalagi Fullstack. Nah bagaimana dengan yang dari awal sudah berkecimpung di Back End, tetapi ingin beralih ke Front End? 🙂

Yah mungkin memang nasib saya untuk di Back End dulu, hehehe

Salam hangat!

Terima Kasih sudah membaca 🙂 “RSN”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *