Saya menggunakan Affinity Designer sebagai pengganti dari Adobe Illustrator ketika ada diskon black friday 50% pada tahun 2019. Selama penggunaan selama satu tahun tentunya ada hal yang membuat saya suka ataupun jengkel dengan aplikasi ini.

Produk Keluarga Affinity (Photo, Designer, Publisher)

Saya akan mulai dari hal-hal yang saya sukai dari Affinity Designer dibandingkan Adobe Illustrator.

Pen Tool

Pen tool Affinity Designer

“Lha bukannya hampir semua aplikasi Vector Design punya Pen Tool ya, trus apa spesialnya?” – Netizen

Saya tau ini sangat subjektif tapi saya benar benar sangat menyukai Pen Tool yang ada di Affinity Designer. Bagi saya, gerakan menarik handle pen di Affinity Designer sangatlah smooth dan satisfying.

Selain itu, Terdapat opsi snapping tersendiri pada handle pen di Affinity Designer dan ini sangat membantu saya dalam membuat handle yang rapih dan proporsional. (anggaplah snapping sebagai smart guide di Adobe Illustrator)

Menangani Worksheet Besar dengan lebih Baik

Baca Juga :
Apa Kegunaan iPad?
Mengapa Linux Sangat Ribet?

Dulu saya pernah membuat banner ukuran 3x A3 menggunakan Adobe Illustrator. Entah kenapa program berjalan sangat berat hingga untuk menggeser objek saja memerlukan waktu yang cukup lama. Jujur saja saya tidak tau mengapa bisa seperti itu. Apakah karena saya menggunakan Adobe Illustrator bajakan? (jangan ditiru ya)

Masalah tersebut tidak terjadi di Affinity Designer. Saya mencoba dengan settingan worksheet yang sama (ukuran, dpi dan color profile) dan program tetap berjalan dengan lancar jaya.

Noise, Pixel Persona dan Adjustment Layar

Fitur noise pada Affinity Designer

Terkadang, saya menambahkan efek noise pada objek gambar agar objek tidak terlihat flat sehingga keberadaan fitur noise ini sangat membantu saya. Tinggal geser slider noise dan simsalabim, efek noise sudah teraplikasikan pada objek.

Ada juga fitur Pixel Persona yang membuat aplikasi ini seakan akan seperti Illustrator + Photoshop. Saya biasanya menggunakan fitur Pixel Persona ini untuk melakukan sketching. Ada juga Adjusment Layer yang sangat membantu saya memoles karya saya sehingga terlihat lebih baik.

Tanpa Adjustment Layer

Dengan Adjustment Layer Gradient Map dan Curves

Selain pengalaman baik menggunakan Affinity Designer, tentunya ada beberapa pengalaman menjengkelkan yang membuat saya kesal

Baca Juga :
Mangapa Sistem Operasi Lunux Versi Desktop Lebih Sedikit Penggunanya

  • Pencil Tool sangat tidak bersahabat

Saya rasa fitur Pencil Tool lebih baik dihilangkan saja karena hampir tidak ada bedanya antara Brush Tool dan Pencil Tool pada Affinity Designer. Pencil Tool di Affinity Designer juga tidak se-Powerfull Pencil Tool yang ada di Adobe Illustrator

  • Beberapa operasi masih kurang optimal

Saya bingung dengan Affinity Designer. Di satu sisi aplikasi ini dapat berjalan lancar pada worksheet berukuran besar, tetapi di sisi lain Brush Tool dan Color Wheel di Affinity Designer terasa laggy, tidak seperti pada Adobe Illustrator.

  • Minimnya fitur

Tak bisa dipungkiri bahwa Affinity Designer masih kalah fitur jika dibandingkan dengan Adobe Illustrator. Sebut saya fitur Offset PathBlend3DShape Builder Tool, dll masih belum diimplementasikan di Affinity Designer.

FYI fitur offset path akan dimunculkan pada Affinity Designer 1.9

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya lebih nyaman dengan Affinity Designer dibanding Adobe Illustration. Kalau kamu heran kenapa saya bisa lebih suka Affinity Designer dibanding Adobe Illustrator ya…

Namanya juga hidup

Terimakasih sudah membaca 😊😊😊

Baca Juga :
Kekurangan dari Windows 11
Cara Menggunakan Handphone Secukupnya

2 Replies to “Perangkat lunak Affinity sebagai pengganti Adobe?”

Leave a Reply

Your email address will not be published.