Mengapa masih ada yang masih menggunakan perangkat lunak bajakan ??? yuk baca selengkapnya sampai selesai sobat ….

DISCLAIMER

  • Jawaban ini berdasarkan pengalaman saya sebagai juragan software bajakan di kampus dulu.
  • Jawaban ini berdasarkan cocoklogi dan main feeling berkala.
    Tidak ada survey atau data yang pasti, jadi tidak usah ditanggapi serius apalagi sampai dijadikan bahan penelitian untuk skripsi.

Sewaktu masih SMK dulu, saya sudah gemar mengoleksi berbagai macam Software ( bajakan ). mulai dari software stndar seperti Windows , Office, hingga software seperti anti nyamuk dan terapi suara pskilogi.
Bahkan guru TIK saya dulu tak segan-segan bertanya kepada saya, “Psst…. ada software baru apalagi?””

Mata doi langsung berbinar-binar kalau saya menebutkan kalu saya menyebutkan punya software hacking yang bisa merekam semua aktivitas pengguna Real-time seperti nonton TV.

Pada saat itu saya tidak tahu. Saya mengira “crack” dan “keygen” merupakan langkah. operasional standar untuk meng-install software tersebut ke komputer. Sementara kalau bayar itu artinya saya sedang dirampok.

  1. KISMIN

Alasan paling klasik adalah kismin, kere, nggak punya duit.

Bagi anak kampus yang jajannya masih seputar warteg, nasgor, dan es teh manis harga software Rp 1 juta sudah dianggap setara membeli Lamborghini.

Janganlah begitu. Yang murah, ang harganya cuman Rp 100.000-an pun juga dianggap mahal.

“Mending main di warnet”, mungkin seperti itu isi kepala mereka.

2. KAUM MENDANG-MENDING

Secara ekonomi mungkin mampu, tapi mereka masih masuk kategori kaum “mendang-mending””.

kalau dibawa ke percakapan dan diajak pakai yang berbayar jawaban mereka kurang lebih:

Ngapain bayar kalau ada yang gratis?! Mendingf download sendiri!

Ah, rugi gue keluar Rp50.000 buat beli aplikasi, Mending Beli Roko!

Cieh, Bayar ! Mending gue beli HP baru

Bedanya apa antara yang bayar dengan yang download gratis? fungsinya sama aja, kan ? Ya mendingan yang gratis dong.

3. LAPTOP KOSONGAN

Lho, apa hubungannya ?

Dulu, pada masa kejayaan windows 7, banyak pabrikan laptop yang mengeluarkan laptop versi rakyat jelata alias bahan cuma plastik dengan prosesor nggak jauh-jauh dari intel Atom atau Celeron ( Ram cuma 2GB pula huh… )

Untuk menekan harga laptop, maka laptop dijual kosongan alisa cuma DOS alis tidak ada windows XP, windows 7, ataupun windows vista ter-install.

Tahun itu duit Rp 3 jutaan sudah dapat Asus Eee PC dengan laar 10 inch. Kalau mau yang ada windows-nya harganya naik jadi Rp 3,8 juta atau Rp 4 jutaan tergantung spesifikasinya.

Beda dengan seperti itu membuat anak kuliah mikir. sudah hidup kismin di perantauan, masa orang tua di ajak kismin juga dengan beli laptop mahal-mahal.

Ahirnya beli laptop termurah yang bisa didapat, yang penting nggak keluar duit puluhan ribu untuk sewa di warnet dan berantem dengan anak-anak WP dan PB.

Karena laptopnya kosongan, ya terpaksa install windows 7 bajakan yang harga versi Ultimate-nya Rp.2 jutaan. install-nya pakai loader buatan DAZ.

Pakai linux ? zaman itu masih isu kompabilitas, makannya nggak begitu populer.

4. BENAR-BENAR TIDAK TAHU BAJAKAN

Dulu kemenkominfo era Pak M,Nuh bagai macan ompong nan buta.

Undang-undang tentang perlindungan pada aplikasi perangkat lunak sudah ada sejak tahun 2002. Tetapi eksekusi perlindungannya di lapngan nyaris NOL BESAR!

Banyak sekali CD dan DVD bajakan yang di jual bebas di toko-toko. Apalgi di ITC. Apakah banyak yang beli? Banyak ! Pake banget lagi. itu karena orang-orang tidak tahu yang dijual itu bajakan atau asli.

Saat membeli laptop pun, anak-anak mana bisa membedakan yang bajakan dengan yang asli, Pokonya ada office-nya aja.. dan bisa ngetik.

Baru pada era Pak Tifatul Sumbiring mulai muncul gigi gerahamnya kominfo ( buka gigi taringnya). Setidaknya di mangga dua yang jualan laptop dengan menyertakan software bajakan didalamnya sudah muali berkurang.

Akibatnya, walau laptop itu sudah ada windows OEM. tetap saja aplikasi Office, Photoshop, da Corel-nya pakai yang bajakn. Alasannya ? ya nomor 1 dan monor 2 itu. karena orang butuh juga.

Padahal waktu itu sudah ada Office Online dan Google Docs lho.
Walaupun Google Docs dulu awal kemunculannya sering dicemoh karena nggak kompatibel dengan Microsoft Office, nyatanya sekarang banyak yang pakai tuh.

Dulu bahkan Business Software Alliance sempat membuat sayembara.
Barang siapa yang bisa melaporkan ada instansi yang ketahuan pakai software bajakan maka akan diberikan hadiah uang cash Rp 1 Miliar dan rahasianya dijamanin.

Tetapi sampai sekarang saya belum ketemu berita yang menyebutkan ada yang mendapatkan hadiah uang itu.

5. BISA BELI TAPI TIDAK TAHU DIMANA

Dulu, kartu debit Perbankan Indonesia itu masih berbasis magnet. Tidak bisa dipakai untuk berbelanja daring sesuai aturan dari Bank Indonesia.

Penetrasi kartu kredit di Indonesia masih terbilang rendah dan belum banyak yang melek keamanan digital sehingga berbelanja daring pakai kartu kredit bisa jadi orang jantungan, H2C bisa dimaling orang.

jadi, Meskipun mampu membeli, tapi kalu beli daring berbahaya makannya lebih banyak yang membajak.

Mau cari reseller-nya pun tidak tahu siapa dan dimana.
Kalau beli di FJB kaskus juga H2C, bisa jadi palsu. kan bisa saja sipenjual ngaku-ngaku itu asli.

6. BISA BELI TAPI NYICIP DULU

Persentase orang yang memiliki idelogi ini sangat kecil tapi memang ada di lapangan.

Secara finansial orang ini mampu membeli. Tapi mereka ingin mencicipi dulu software yang ingin mereka beli dengan cara dibajak karena :

Versi trial-nya ada fitur-fitur dibatasi.

Pengembang tidak menyediakan veris trial. Kalaupun ada, hanya mau diberikan untuk entitas bisnis dan pembelian volume licensing.

Tidak mau membeli kucing dalamgentog. Kata orang bagus, tapi kalau setelah dibeli ternyata jelek bagaimana?

7. DIJUAL KEMBALI

Dan tentu saja orang-orang membajak software itu karena ingin dijual kembali.

Saya tidak tahu harga pasaran DVD atau HDD External berisi paket software bajakan sekarang bagaimana. tapi yang jelas memang ada yang jual.

Sekian penjelasan mengenai masih ada yang menggunakan perangkat lunak bajakan.. semoga manfaat

Trimakasih sudah membaca 🙂

Baca Blog Lainnya Disini

One Reply to “Mengapa Masih Menggunakan Perangkat Lunak Bajakan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *