Berapa besar peluang lulusan non-IT untuk bekerja dibidang front end development?

Mari kita biarkan data yang berbicara. Karena pertanyaan tidak men-spesifikasikan tempat, maka saya anggap pertanyaan ini somewhat international, tanpa memperhatikan tempat.

Ada situs yang cukup mentereng bagi para developer untuk mencari-cari solusi dari berbagai problematika software development.

Namanya adalah stackoverflow.

Nah, setiap tahun mereka selalu mengadakan semacam survey. Survey ini awalnya lebih ke data-data yang sifatnya trivial, atau fun fact. Lama-lama, survey ini semakin dalam pengumpulan datanya.

Mari kita skip ke survey yang diadakan di tahun 2021. Sebelum kita reveal survey, harus kita bahas dulu beberapa data sebagai prakata.


Responden

Tak adil kalau kita tidak membedah, siapa yang menjawab survey-survey tadi. Karena bisa jadi yang menjawab pertanyaan malah cuma pentolan-pentolan Silicon Valley. Mari kita ulik.

Dari kurang lebih hampir 50.000 responden, AS dan India masih mendominasi lapangan[1] , yaitu di angka 18,33% dan 12,61%. Sisanya diikuti oleh Jerman di angka 6,75%, Inggris Raya di angka 5,37%, dan Kanada di angka 3,61%.

Kebanyakan dari mereka menulis line kode pertama mereka di umur antara 11 – 17 tahun[2] . Angkanya cukup dominan, yaitu 53,06%. Lalu diikuti oleh range umur 18 – 24 tahun, di angka 24,1%.

Lalu lewat suatu pertanyaan yang komposit, mayoritas dari mereka juga belajar ngoding menggunakan media seperti video, blog, dan lain-lain, yaitu sampai 59,53%. Sementara yang belajar ngoding di sekolah malah berada di posisi kedua, dengan persentase 53,59%[3] .

Kebanyakan dari mereka juga merupakan full stack developer[4] . Hanya 27,42% dari mereka yang merupakan seorang front-end developer[5] .

Secara usia, mayoritas dari responden juga merupakan coder di range umur 25 – 34 tahun[6] .

Lalu secara gender sangat didominasi oleh pria, bahkan sampai 91,67%[7] .

Secara ras, mayoritas dari mereka juga merupakan Kaukasian, hingga 58,43%[8] .


Data Pendidikan

Oke, kita langsung saja reveal level edukasi mereka.

Tadaaaa… Kebanyakan developer adalah lulusan Sarjana, bahkan hingga 42,37%. Angka lulusan SMA hanya 11,43%. Sementara college dropout persentasenya 12,69%.

Nah, sebelum kita mengambil kesimpulan, harus dipahami juga kalau responden kebanyakan adalah orang Eropa / Amerika. Jadi secara umum, kondisi sosio-kultur dan taraf ekonomi seharusnya sangat berbeda.

Banyak data lain yang harus kita pertimbangkan. Misalkan, data statistik pencapaian pendidikan di AS tahun 2018[9] , yang mendominasi responden survey. Angka kelulusan SMA mereka sangat tinggi. Untuk populasi di umur 25 – 30 tahun, 92,95% punya ijazah SMA. Lalu gelar diploma sendiri juga diatas 60%. Sementara sarjana berada di angka 36,98%.

Kalau dibandingkan dengan statistik employment, masih di tahun yang sama yaitu 2018, ada 128,57 juta jiwa[10] warga AS yang statusnya bekerja sebagai karyawan secara full time, dari populasi 326,8 juta jiwa. Nah, memang betul kalau tidak semua developer adalah karyawan full time, ada juga yang freelance. Ada 4% populasi yang dinyatakan unemployed. Tapi dari sini terlihat rasio pendidikan dan employment di AS.

Nah, data di atas sangat kontras dengan Indonesia. Di Indonesia, seseorang secara subjektif harusnya lebih mungkin untuk bekerja dengan ijazah SMA, dibanding di AS. Memang, di Indonesia kebanyakan perusahaan masih memasang syarat lulusan sarjana… di lowongan kerja, tak seperti di AS yang semakin agnostik. Tapi kita lihat satu data yang menarik.

Di Indonesia tahun 2020, hanya 8,5% dari populasi usia 14 tahun ke atas yang memiliki ijazah pendidikan tinggi, regardless apakah diploma, atau sarjana[11] . Padahal angka pengangguran terbuka ada di angka 7,07%[12] .


Kesimpulan

Kita tidak bisa serta merta mengambil kesimpulan apapun secara objektif, mengingat data yang ada tidak / belum dikaitkan dengan peluang penerimaan kerja / kesempatan kerja sebagai front-end developer secara spesifik. Hanya saja secara subjektif, dapat dilihat kalau seharusnya bagi Indonesia, peluang pekerjaan apapun dengan ijazah SMA sebetulnya masih cukup terbuka bila dibandingkan negara-negara barat.

Berdasarkan pengalaman pribadi, biasanya yang dipertimbangkan dari penerimaan kerja untuk developer adalah:

  1. Skill, yang secara spesifik mengacu ke kemampuan koding dan segala urusan terkait. Terkadang skillset samping seperti deployment, cloud computing bisa membantu.
  2. Learning rate, yaitu kecepatan belajar skill baru. Contohnya di perusahaan saya sekarang bekerja. Saya melamar dengan ijazah SMA, dan pengalaman profesional di korporat 1 tahun 7 bulan. Namun yang menjadi poin plus adalah kecepatan saya belajar skill baru.
  3. Soft skill, ini juga penting. Attitude, dan juga trait-trait lain seperti kemampuan logika bisa mempengaruhi kesempatan Anda.

Sekian, semoga membantu.

Was muss, das muss.

Catatan Kaki

“RSN”

Leave a Reply

Your email address will not be published.