Di sebuah hutan, hiduplah seekor tikus yang dikenal sebagai ahli filsafat. Dirinya mengetahui hal-hal yang tidak diketahui hewan lainnya.

Pada hari itu dia sedang memberikan kuliah kepada para muridnya tentang bagaimana kegelisahan dapat membunuh fisik dan mental.

Di tengah sang filsuf ini sedang memberikan kuliah, tiba-tiba datang seekor singa yang bermaksud untuk menggangu kelas kuliahnya. Singa tersebut adalah ketua preman di hutan itu. Untuk mengatasi kenakalan si singa, tikus berkata kepada para muridnya:

“Aku akan membuktikan tentang apa yang kuajarkan tadi kepada kalian (bagaimana kegelisahan dapat membunuh fisik dan mental)”.

Kemudian sang filsuf ini mengarahkan pandangannya ke singa dengan tatapan tenang seraya berkata:

“Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang penting untukmu, Tuan singa. Dan setelah itu engkau harus pergi dan tidak mengganggu kuliah kami”.

Sang singa pun menjawab:

“Apa yang mau kau katakan kepadaku, sampai berani-beraninya engkau mengusirku”.

Tikus kemudian berkata:

“Di hadapan murid-muridku dan hewan lain, aku ingin menyatakan kalau aku dapat membunuhmu jika engkau memberiku waktu selama sebulan. Seluruh masyarakat hutan ini akan menyaksikan itu”.

Tentulah sang singa langsung tertawa mendengarkan perkataan tersebut dan bertanya apakah si tikus serius akan membunuhnya. Tikus pun meyakinkan hal itu, dan si singa berkata:

“Baiklah, jika engkau yakin dapat membunuhku, aku akan menunggu itu sebulan di mulai dari sekarang. Tapi jika engkau tidak bisa melakukannya, engkau akan kugantung mati di depan semua hewan”.

Setelah itu singa pun pergi. Awalnya, dia sama sekali tak memikirkan ancaman si tikus tersebut. Namun pada hari-hari kemudian, dia mengingat ancaman itu dan berpikir tentang apa sebenarnya yang akan dilakukan si tikus untuk dapat membunuhnya: kenapa si tikus begitu yakin bisa membunuhnya dan bagaimana jika itu sungguh akan terjadi?

Memikirkan itu sang singa pun tertawa sendiri karena membayangkan bagaimana mungkin si tikus mampu membunuhnya, apa lagi singa memiliki teman-teman yang akan siap membantunya. Namun beberapa hari kemudian pikiran tersebut kembali menghantuinya dan terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Waktu terus berjalan dan hampir sebulan. Alih-alih datang menemui singa untuk menyatakan menyerah, tikus sang filsuf terus mengumumkan ancamannya itu kepada seluruh penghuni hutan. Sehingga sang singa terus berpikir dan berpikir, kenapa si tikus begitu yakin bisa membunuhnya dan apakah si tikus mempunyai senjata hebat yang mematikan?

Siapa sangka ternyata ancaman si tikus menimbulkan kegelisahan yang besar bagi sang singa sampai dia kehilangan nafsu makan dan kekurangan semangat melakukan aktifitas lainnya. Setiap saat singa yang malang ini hanya memikirkan nasib apa nanti yang akan dialaminya di akhir hidupnya jika si tikus benar-benar dapat membunuhnya.

Akhirnya ancaman si tikus benar-benar terjadi. Di suatu pagi, para penghuni hutan menumukan si singa mati di kediamannya. Singa yang gagah ini telah dibunuh oleh kegelisahan, kekhawatiran, kesedihan dan ketakutannya tentang ancaman si tikus. Pikiran dirinya sendiri yang membunuh dirinya sendiri.

Begitulah bila diri menjalani hidup seperti si singa yang diselimuti rasa kegelisahan akan masa depan. Kurang merenungkan sebagaimana hal yang diajarkan si tikus sang filsuf, bahwa kegelisahan akan masa depan dapat membunuh fisik dan mental diri.

Sang waktu hanya sebuah persepsi yang naif akan realitas. Masa depan dan masa lalu itu hanya suatu bayangan semata dan tidak nyata, karena apa yang sungguh nyata adalah masa kini.

Tidak salah apabila diri memikirkan masa depan, namun janganlah biarkan diri hidup dalam penjara ambisi akan masa depan. Terlalu memikirkan masa depan itu dapat menjadi ancaman bagi kesuksesan karena ia akan memunculkan kegelisahan yang mengurangi kesehatan fisik dan mental.

Biasakanlah untuk senantiasa bersikap tenang dengan memberikan apa yang terbaik di masa kini agar diri tidak mudah gamang dan gegabah dalam mengambil setiap pilihan demi pilihan sehingga masa depan yang diinginkan pun tercapai.



Salam sukses kawan 

Created by Rizal Tanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published.